Program Pendidikan Prioritas Untuk Papua dan Papua Barat

Jakarta- Pemerintah memiliki perhatian yang besar terhadap pembangunan di Provinsi Papua dan Papua Barat, utamanya pada sektor Pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui unit utamanya, memiliki berbagai program prioritas untuk mencapai kemajuan dan percepatan pembangunan pendidikan di kedua provinsi tersebut.

Bertempat di gedung Dikti, Senin (20/1), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Rapat Koordinasi Antara Kemdikbud dengan Pimpinan Daerah Provinsi Papua dan Papua Barat di Jakarta,hampir seluruh Bupati dan walikota dari kedua provinsi hadir pada acara yang dibuka oleh Wamendikbud, Musliar Kasim.

Dalam sambutan pembukaanya Wamendikbud menggaris bawahi upaya Kemdibud untuk meningkatkan terus pelayanan pendidikan kepada masyarakat, selain terkait dengan mutu, akses pun menjadi fokus utama Kemdikbud “Kami terus berupaya meningkatakan akses dan mutu pendidikan di Papua dan Papua Barat yang melingkupi ketersediaan dan keterjangkauan, seharusnya tidak ada lagi orang tua yang tidak mengirimkan anaknya ke Sekolah ” sahut mantan Rektor Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

Khusus untuk anak-anak Papua dan Papua Barat, guna mengejar ketertinggalan pendidikan mereka di jenjang pendidikan dasar dan menengah Kemdikbud telah menyiapkan skema bantuan yang diprioritaskan seperti BOS dan PMU, “Dengan bantuan ini seluruh anak Papua dan Papua Barat menerima bantuan-bantuan tersebut tanpa terkecuali, mohon Pak Bupati dapat memantau implementasinya secara baik” ujar Wamendikbud.

Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Supriadi Rustad mengutarakan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) telah menyiapkan berbagai program yang terfokus pada daerah yang terkatagori Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) di mana Papua dan Papua Barat menjadi bagiannya. Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) sebagai salah satu program tersebut dinilai memberikan dampak positif bagi perkembangan pendidikan di Papua dan Papua Barata.

” MBMI ini memiliki tiga program pendukung yaitu, Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3t), Pendidikan Profesi Guru SM3T, Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT)” jelas Supriadi.

Pada tahun 2013 program SM3T khusus Papua dan Papua Barat telah menjangkau daerah-daerah yang paling terpencil di kedua provinsi tersebut “Allhamdulliah pad atahun 2013 berkat kerjasama yang baik dengan Pemerintah Daerah dan Bapak Bupati semua, kami sudah berhasil mengirimkan peserta SM3T ke daerah-daerah yang tergolong khusus dikarenakan medan, kondisi dan tantangan yang akan dihadapainya” jelah Supriadi. Para peserta SM3T adalah para Sarjana Kepandidikan terbaik yang telah memiliki bekal keilmuan dan pedagogik yang relevan dan mendukung proses pendidikan di daerah 3T. Sebelumnya para calon peserta SM3T tersebut mengalami seleksi, baik seleksi tahap akademis maupan psikologis yang terbagi menjadi tiga tahapan yaitu, tahap nasional, tahap LPTK dan tahap daerah pengabdian ” untuk seleksi di daerah pengabdian, Alhamdullialah semua peserta SM3T di daerah Papua dan Papua Barat lolos semua, jumlah yang dikirim sama dengan jumlah yang kembali pulang setelah pengabdian”.

Selain SM3T, Program PPGT pun memiliki fokus yang sama dengan tujuan peningkatan mutu pendidikan di daerah Papua dan Papau barta. ” dengan PPGT kami memboyong putra-putri terbaik dari Aceh, NTT, Papua dan Papua Barat untuk kami didik dan persiapkan di LPTK agar kelak mereka menjadi pendidik yang berkualitas dan memajukan provinsi mereka masing-masing. Saat ini sekitar 500 putra-putri dari daerah tersebut belajar di LPTK terbaik di Indonesia”.

Selain Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikti melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan juga memiliki program Afirmasi Pendidikan Tinggi bagi Putra-Putri Asli papua dan Papua Barat (ADIK PAPUA). Program ADIK PAPUA ini menurut Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Illah Sailah, perlu ditingkatkan kerjasama dan komunikasi yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah ” Pada tahun 2012 kuota yang tersedia adalah 770, yang registrasi menurun hingga 569 sedangkan yang aktif berkuliah 502, yang ke 67 hilang tanpa kabar. oleh karenanya kita perlu untuk meningkatkan kerjasama dan komunikasi kita semua. Menurur bapak-bapak semua perlu tidak program ini dilanjutkan ?” tanya Illah yang kemudian di jawab serenatak dan tegas “Lanjutkaann” oleh para Bupati yang hadir.

Illah menegaskan Ditjen Dikti bekerjasama dengan Majalis Rektor Perguruan tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) berupaya terus untuk memberikan yang terbaik bagi putra-putri Papua yang kini berada di 39 perguruan tinggi negeri di Indonesia untuk menenuntut ilmu “Saya seringkali meminta kepada para rektor untuk terus memperhatikan secara khusus anak-anak kita ini, baik kehidupan akademis maupun sosialnya, apabila mereka mendapatkan kendalam pembelajaran setelah tahun pertamanya, mereka dapat pindah ke program studi lain yang lebih cocok bagi mereka, bahkan memungkinkan juga mereka pindah ke universitas di daerah tersebut, sebagai contoh apabila ada yang mengalami kendala akademis di ITB dia dapat pindah ke UPI program studi penjaskes, mungkin akan lebih baik” sahut Illah

Pada tahun 2013 peserta ADIK PAPUA bertambah menjadi 612 walau yang kemudia mendaftar ulang tidak lebih dari 420 orang. “kami berharap komitmen kuat dari pemerintah daerah untuk mendukung program ini karena ini merupakan suatu peluang yang baik”. Selain Papua dan Papua Barat, Illah mengungkapkan, Ditjen Dikti pun akan membidik sejumlah daerah dengan programs erupa, adapun perogram-program tersebut adalah Kalimantan Barat, Aceh, Nusa Tenggara Timur serta Jawa Barat. (YH/HS)

sumber : Dikti

No Responses

Leave a Reply